Rahasia 11 September 2001
ARSIP BERITA - Senin, 16 September 2002
Oleh Ivan A Hadar
DALAM penerbangan pulang ke Indonesia dari Berlin, saya membaca sebuah buku
Verschwoerungen, Verschwoerungstheorien und Geheimnisse des 11.9. [Konspirasi, Teori
Konspirasi dan Rahasia 11 September]. Terbit awal September 2002, buku ini diduga akan
menjadi best seller, tidak hanya di Jerman. Penulisnya, Andreas Broeckers, yang dikenal
sebagai penulis ilmiah, wartawan, dan mantan penanggung jawab rubrik budaya sebuah harian
terkenal di Jerman berasumsi, Tanggal 11 September 2001, bukan hanya hari ketika terjadi
sebuah aksi teror yang sangat kejam dan mengerikan, tetapi juga menyimpan berbagai
kejanggalan yang bizarre, latar belakang yang disembunyikan, kontroversi yang fantastik,
dan cerita berbagai operasi strategis intelijen. Apa pasal? Broeckers adalah seorang
investigator.
Dalam bukunya, ia melawan pendapat umum yang terbentuk lewat arus utama pemberitaan yang
memperoleh pasokan data resmi. Setelah aksi polisi terbesar sepanjang sejarah, demikian
Broeckers pada akhir bukunya, bukti-bukti yang dikumpulkan tentang keterlibatan Osama bin
Laden dan Al Qaeda, beberapa jam setelah kejadian dan satu tahun kemudian masih sama,
nyaris tidak ada. Ia lalu bertanya, siapa yang memperoleh keuntungan dan patut diduga
terlibat dalam aksi teror yang menewaskan ribuan jiwa itu. Bukan untuk mengedepankan
sebuah teori konspirasi baru, tetapi agar cara berpikir konspiratif yang mewabah saat ini
menjadi produktif lewat keraguan ilmiah. Karena, Tanpa sebuah teori konspirasi yang
balance, sulit memahami dunia saat ini yang sangat kompleks dan penuh konspirasi. Sebagai
bagian masyarakat dunia, menjadi penting bagi kita untuk bertanya seberapa jauh informasi
dan asumsi lain tentang latar belakang aksi teror 11 September, bisa menjadi bahan
pertimbangan dalam upaya memahami nafsu perang kelompok keras dalam Kabinet Bush untuk
membasmi terorisme internasional. KETIKA7.12.1941, bagaikan terbangun dari mimpi di siang
bolong, pesawat tempur Jepang menyerang Pearl Harbor, seluruh rakyat AS bersatu padu dan
amat marah [indignation] terhadap Kekaisaran Matahari Terbit. Saat ini, para ahli sejarah
mengatakan, sebenarnya Presiden Roosevelt sejak awal mengetahui rencana penyerangan itu.
Bahkan, konon, dialah yang memprovokasi Jepang. Roosevelt ingin terlibat Perang Dunia II,
padahal, hingga Pearl Harbor, mayoritas rakyat AS [88 persen] tidak sepakat dengan maksud
itu.
Ketika 11September 2001, bagaikan mimpi di siang bolong, empat pesawat terbang sipil
berpenumpang menyerang gedung kembar WTC [World Trade Center] dan Pentagon, komunitas
masyarakat beradab AS dan seluruh dunia amat marah atas perbuatan biadab itu. Pelaku dan
musuh pun langsung diidentifikasi, Osama bin Laden dan kelompok Islam fundamentalis Al
Qaeda. George W Bush mengumumkan Perang Dunia melawan Terorisme Internasional. Tanpa 11
September, aksi itu kurang mendapat dukungan. Kini cukup banyak indikasi, Pemerintah AS
sebenarnya telah mempunyai informasi tentang rencana teror itu. Sejak awal, Broeckers
curiga terhadap penilaian seragam media massa [mainstream] atas kejadian itu. Serempak,
termasuk media massa dengan reputasi internasional dan biasanya bersikap kritis, seakan
menjadi juru bicara Gedung Putih. Dalam mencari informasi lebih luas dan alternatif.
Dari hari ke hari Broeckers melanglang buana di Internet sambil meluncurkan mesin
investigatif yang bermuatan berbagai pertanyaan baru. Dalam pencariannya, selama
berbulan-bulan ia menyediakan online magazine telepolis sebagai notulensi investigasi yang
telah diklik oleh jutaan pengunjung serta memicu diskusi dan debat panas dan produktif.
Apakah sejak 11 September, dunia tidak seperti sebelumnya? Kenyataannya, banyak kejadian
yang lain sama sekali. Ambil contoh, kakek Prescott Bush mendanai dan mendukung Hitler,
sebelum Hitler digilas tentara AS. Anaknya, George Bush, saat menjadi orang nomor satu di
CIA, mempersenjatai Saddam Husein, untuk kemudian sebagai Presiden AS menggempurnya dalam
Perang Teluk. Perusahaan minyak pertama milik cucunya, George W Bush yang kini Presiden
AS, ternyata memperoleh penghasilan dari dagang dengan keluarga besar Bin Laden.
Osamah bin Laden, demikian Broeckers, adalah produk intelijen AS yang didukung penuh
sebagai kelompok teror melawan Uni Soviet. Pada Januari 2001, pemerintahan Bush yang baru
dibentuk melarang FBI dan CIA menghentikan menyidikan terhadap klan Bin Laden. Menurut
harian Perancis Le Figaro, pada Juli 2001, seorang utusan CIA menjenguk Bin Laden yang
dirawat di rumah sakit AS di Dubai. Lalu, simak data berikut. Jenderal Mahmud Ahmed,
Kepala Dinas Intelijen Pakistan [ISI], yang berkolaborasi erat dengan CIA, pada Juli 2001
mentransfer uang sebesar 100 ribu dollar AS kepada pilot teroris Muhammad Atta. Selain
itu, dari tanggal 4 hingga 19 September 2001, Jenderal Mahmud Ahmed melakukan kunjungan
resmi ke AS dengan tujuan Pembicaraan tentang Taliban. Tanggal 11 September 2001, ia
bersantai makan pagi di Capitol Hill dengan dua orang ketua divisi intelijen AS. Pada hari
itu, meski Komandan Angkatan Udara AS mengetahui pembajakan empat pesawat yang melaju
mendekati daerah larang terbang [no fly areas], toh dibutuhkan waktu lebih 75 menit
sebelum pesawat pemburu diizinkan take off untuk menghalang-halangi. Terlambat. Dari
berbagai informasi yang diperoleh, Broeckers menjadi kian curiga, karena banyak menemukan
bolong dan tidak sinkronnya detail dalam versi resmi peristiwa 11 September. Ia bertanya,
mengapa, misalnya, hubungan radio dengan tower dan informasi dari kotak hitam [flight
recorder], tidak dipublikasikan? Lalu, mengapa nama 19 pembajak tidak ditemukan dalam
daftar penumpang? Dan lima tersangka pelaku pembajak bunuh diri itu ternyata sehat
walafiat. Mengapa tidak ada foto atau video yang merekam bangkai pesawat yang dikabarkan
menghunjam Pentagon? Mengapa bangkai pesawat lainnya berserakan dengan jarak puluhan mil
satu dari lainnya? Apakah pesawat itu jatuh ditembak? Apa pula alasan pengunduran diri
John O'Neill, ketua tim penyidik Bin Laden, delapan minggu sebelum 11 September? Apa saja
hubungan bisnis langsung keluarga Bush dan Bin Laden?
Kepentingan bisnis apa yang dimiliki Halliburton, perusahaan milik Wakil Presiden Cheney
dalam proyek pipa gas di Afganistan? Mengapa pada Juli 2001 dilakukan perundingan rahasia
dengan Pemerintah Taliban tentang pembangunan saluran gas itu? Mengapa penyidikan FBI
terhadap beberapa murid sekolah penerbangan yang dicurigai, dihentikan oleh Gedung Putih?
Mengapa Bush dan Cheney menekan pemimpin oposisi Dashley untuk menghindari rencana Kongres
melakukan penelitian mendalam tentang peristiwa 11 September? Berbagai pertanyaan dan
kecurigaan yang menggantung itu membutuhkan klarifikasi. Jawaban benar atasnya layak
diketahui tidak hanya oleh keluarga puluhan ribu korban tak berdosa di New York dan di
Afganistan, tetapi juga oleh dunia. Agar nanti tidak menjadi ganjalan dalam sejarah anak
manusia. Atau, kebenaran atasnya baru terungkap jauh di kemudian hari dan sekadar menjadi
catatan buram sejarah peradaban. Bagi AS, klarifikasi atas semua pertanyaan dan kecurigaan
itu kini amat penting, terutama untuk memperkuat legitimasi kepemimpinannya dalam
memerangi terorisme internasional. Sesuatu yang, seharusnya, relatif mudah bagi negara
yang dijuluki Kampiun Demokrasi.
DR. IVAN A. HADAR, President IDe [Indonesian Institute for Democracy Education]